Peran Keluarga bagi Perkembangan Anak




Ditulis oleh: Insyirah Alifta

“Families are the compass that guides us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter” – Brad Henry

            Coba tatap bayanganmu di depan cermin. Tataplah sedikit lebih lama.

            Pikirkan. Pada bayangan di seberang sana, berapa besar andil keluargamu hadir?

Sebesar apa pengaruh keluarga pada caramu berpikir? Sikap sosial dan gayamu bicara? Berapa besar pengaruh mereka pada keputusan-keputusan atas pilihan yang kamu punya?

Ketika lahir ke dunia, kita semua sama-sama tidak tahu apa-apa. Kita tidak lahir lantas bisa melakukan semuanya, atau paham akan segalanya. Terlebih dahulu, kamu dan aku dituntut untuk melewati suatu proses bernama belajar yang sudah dimulai sejak dini. Dari siapa pembelajaran itu didapat? Terlebih dulu, dari orang-orang terdekat. Yang sebagian besar kita sebut dengan keluarga.

Sebagian dari pembelajaran yang kita peroleh bisa berasal dari petuah dan nasihat yang diberikan anggota keluarga kita. Namun terutama pada anak, proses pembelajaran lebih banyak berlangsung dari proses observasi mereka terhadap dunia di sekitarnya. Anak tidak hanya terus bertumbuh secara fisik namun juga berkembang secara emosional, sosial, dan intelektual.

Di awal kehidupan, keluarga lah yang perannya paling besar dalam perkembangan aspek-aspek tersebut. Sebagai agen sosialisasi pertama dan utama bagi anak, keluarga andil dalam pembentukan nilai, keterampilan, sosialisasi, dan rasa aman. Nah teman tumbuh, mari kita bahas pengaruh keluarga terhadap aspek-aspek tersebut satu persatu.

Nilai (Values)

Nilai merupakan pemahaman dan kemampuan membedakan mana yang benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Masyarakat umum memiliki norma dan nilai yang dijunjung, dan keluarga sebagai institusi sosial budaya terkecil memiliki tugas mensosialisasikan nilai serta norma tersebut pada anak. Sosialisasi yang dimaksud tidak hanya berupa pesan atau nasihat, anak juga belajar dengan melihat dan meniru sekitarnya sehingga contoh nyata yang tercermin dari perilaku setiap anggota keluarga amatlah penting. Nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga ini biasanya akan terus dibawa anak sepanjang rentang hidupnya. Sekarang coba ingat-ingat, adakah nilai di keluargamu yang terus kamu junjung sampai sekarang?

Keterampilan (Skills)

Saat anak lahir, pembelajaran terkait kemampuan motorik, bahasa, kognitif dan emosinya resmi dimulai. Kemampuan motorik seperti berguling, duduk, berjalan, memanjat, menggenggam, dan kemampuan lainnya perlu dilatih sejak dini. Lebih lanjut, kemampuan-kemampuan ini akan mengarah pada kemandirian anak yang penting bagi perkembanganya.

Kemampuan bahasa adalah komponen penting lain yang dipelajari anak dari keluarga. Bagaimana anggota keluarga mengekspresikan perasaannya, pengungkapan serta gaya bicara, dan sebagainya penting untuk dipelajari sejak dini. Secara lebih lanjut, kemampuan bahasa ini akan menunjang sosialisasi anak dengan dunia.

Selain itu, kemampuan mengolah emosi juga amat penting bagi anak. Bagaimana mereka bersimpati, peka akan kebutuhan orang lain, serta bagaimana mereka menghadapi naik-turunnya kehidupan. Anak yang tidak dibekali dengan kemampuan ini akan kesulitan mengidentifikasi dan mengolah emosi (terutama emosi negatifnya) di masa depan. Karenanya, mengenalkan anak dengan emosi dasar yang dirasakan sangat penting untuk dilakukan sejak dini.

Sosialisasi

Keluarga adalah kelompok sosial pertama yang dimiliki anak. Apa yang dipelajari anak dari interaksinya dengan keluarganya akan terus ia bawa sepanjang hidupnya, terutama dalam bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Interaksi dengan anggota keluarga anak belajar membangun relasi dan rasa percaya pada orang lain. Selain itu, interaksi face-to-face dengan keluarga juga berperan penting bagi anak. Dari pengalaman itu anak mempelajari ekspresi wajah, isyarat, nada suara, dan hal lain yang dapat menunjang komunikasi dan interaksinya dengan dunia.

Rasa Aman (Security)

Bayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa bisa percaya pada orang lain, tidak merasa aman berinteraksi dengan orang lain, bahkan tidak nyaman bersama orang lain? Anak memperoleh rasa aman pertamanya dari keluarga. Rasa aman yang dimaksud tidak hanya mencakup terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan papan, namun juga rasa aman secara emosional yang tidak bisa diperoleh anak di tempat lain selain rumah.

Ketika anak memperoleh perasaan aman (secure), mereka mampu mengembangkan kemampuan lainnya dengan lebih optimal. Tidak sulit bagi anak untuk tumbuh dan percaya pada orang lain serta tidak takut untuk menjadi dirinya sendiri. Kepercayaan ini diperoleh melalui kelekatan yang aman (secure attachment) ketika kebutuhan dasar dan emosional anak tadi terpenuhi.

Nah teman tumbuh, penting sekali kan peran keluarga pada kita? Sembari membaca, adakah aspek tertentu yang membuatmu ingat akan rumah? Bagaimana pengalaman yang kamu alami saat kecil mempengaruhimu hingga kini?

Lantas bagaimana dengan peran kita sebagai anak? Apakah kita turut memiliki fungsi dan andil dalam keluarga? Mari kita bicarakan itu setelah ini, sampai artikel ketiga tiba, sabarlah menanti!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post