Pentingnya Stimulasi pada Aspek-Aspek Perkembangan Anak




Ditulis oleh: Insyirah Alifta

“Udah berapa bulan umur si kecil? Udah bisa jalan?”

“Si adek udah gede ya, udah bisa apa aja?”

“Eh ini saudara kembar tapi satunya lebih cerewet dari yang lain, ya. Kenapa? Belum banyak kosa katanya? Kok bisa?”

“Aduh, udah mau masuk usia sekolah tapi tantrumnya masih kayak balita, ya. Gimana ini?”

Hayo, seberapa sering Teman Tumbuh mendengar ungkapan-ungkapan seperti yang Badiblum contohkan di atas? Hm… setelah sebelumnya membicarakan tentang masa kehamilan sekarang kita akan masuk pada pembahasan terkait aspek-aspek perkembangan anak! Tapi sebelumnya, kita kupas dulu nih sebenarnya aspek-aspek perkembangan itu ada apa saja, sih? Dan sepenting apa sebenarnya pemberian stimulasi pada tiap-tiap aspek tersebut.

Penasaran, kan? Mari langsung saja kita bahas!

  1. Motorik Kasar

Keterampilan motorik kasar adalah kemampuan yang memungkinkan kita melakukan tugas-tugas yang melibatkan otot-otot besar di torso, kaki, dan lengan kita, melibatkan gerakan seluruh tubuh. Kita menggunakan keterampilan motorik kasar ini untuk semua jenis aktivitas fisik, mulai dari berlari, berjalan, melompat, merentangkan tangan, hingga menyapu dedaunan. Kebanyakan orang biasana dapat melakukan keterampilan ini dengan mudah dan otomatis. Tetapi keterampilan motorik kasar lebih kompleks daripada yang terlihat, lho. Kemampuan ini melibatkan koordinasi otot dan sistem saraf, dipengaruhi keseimbangan dan koordinasi. Mereka juga membentuk dasar untuk keterampilan motorik halus yang membantu kita membuat gerakan kecil seperti menggunakan pensil. Keterampilan motorik kasar berhubungan dengan kemampuan lain. Ini termasuk keseimbangan, koordinasi, kesadaran tubuh, kekuatan fisik, dan waktu reaksi kita terhadap stimulus. Memiliki keterampilan motorik kasar yang buruk dapat memengaruhi kita di semua bidang kehidupan, akan sulit melakukan tugas-tugas utama dan sekolah, pekerjaan, dan rumah.

Keterampilan motorik kasar mulai berkembang pada masa bayi, dan terus meningkat sepanjang masa kanak-kanak. Tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama, tetapi ada pencapaian yang biasanya mereka capai pada usia yang berbeda. Misalnya, pada usia 3 atau 4 tahun, anak biasanya sudah bisa melompat dengan dua kaki. Pada usia 7 atau 8 tahun, mereka biasanya dapat mengendarai sepeda tanpa roda latihan dan menangkap bola kecil. Anak-anak terus menjadi lebih terkoordinasi selama masa remaja hingga dewasa.

  1. Motorik Halus

Keterampilan motorik halus adalah kemampuan kita melakukan gerakan yang melibatkan otot-otot kecil di tangan dan pergelangan tangan kita. Kita mengandalkan keterampilan ini untuk melakukan tugas-tugas utama di sekolah, di tempat kerja, dan dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan-gerakan yang melibatkan keterampilan motorik halus biasanya muncul secara alami bagi kebanyakan orang sehingga kita biasanya tidak memikirkannya. Tapi nih Teman Tumbuh, keterampilan motorik halus itu sebenarnya kompleks, lho. Diperlukan koordinasi antara otak dan otot dalam melakukannya. Keterampilan ini terlebih dahulu didasari oleh  keterampilan motorik kasar yang memungkinkan kita melakukan gerakan yang lebih besar, seperti berlari atau melompat. Beberapa contoh penggunaan keterampilan motorik halus: Memegang pulpen atau pensil, menggambar dan menulis dengan rapi, menggunakan papan ketik, menggunakan gunting, penggaris, dan alat lainnya. Kita juga membutuhkan keterampilan motorik halus untuk melakukan tugas sehari-hari seperti berpakaian dan menyikat gigi.

Nah, keterampilan motorik halus sendiri mulai berkembang pada masa bayi, dan terus meningkat seiring bertambahnya usia anak-anak. Dan tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Meski begitu, biasanya ada milestones atau kemampuan-kemampuan yang bisa dicapai di usia tertentu. Misalnya, pada usia 5 atau 6 tahun, anak-anak biasanya dapat menyalin bentuk dan huruf, dan menggunakan sendok atau garpu dengan mudah. Pada usia 7 atau 8 tahun, mereka biasanya dapat mengikat sepatu dan kancing dan resleting sendiri.

  1. Kognitif

Perkembangan kognitif berarti bagaimana anak-anak berpikir, mengeksplorasi, dan mencari tahu. Kemampuan ini adalah tentang pengembangan pengetahuan, keterampilan, kemampuan pemecahan masalah dan disposisi, yang membantu anak-anak untuk berpikir dan memahami dunia di sekitar mereka. Sebagai orang tua, penting untuk mendorong perkembangan kognitif anak segera setelah ia lahir sebagai pondasi yang menunjang keberhasilan anak di sekolah dan di kemudian hari. Sama seperti keterampilan lainnya, kemampuan kognitif juga berkembang seiring dengan pertumbuhan anak dan ditandai dengan pencapaian tertentu di usia tertentu.

Nah Teman Tumbuh, dalam menunjang perkembangan kognitif anak, penting bagi kita untuk secara aktif terlibat dalam interaksi atau aktivitas yang berkualitas setiap hari. Cara lain yang dapat kita lakukan untuk membantu perkembangan kognitif anak adalah dengan memberinya pilihan dan mendorongnya untuk membuat keputusan yang bijaksana. Dianjurkan juga untuk membiarkan anak mengeksplorasi berbagai cara untuk memecahkan masalah.

  1. Bahasa

Perkembangan bahasa adalah proses saat anak-anak belajar memahami dan mengomunikasikan bahasa selama masa kanak-kanak awal. Sejak lahir hingga usia lima tahun anak-anak mengembangkan bahasa dengan sangat cepat, tahapan perkembangan bahasa pun bersifat universal pada manusia. Namun, usia dan kecepatan seorang anak mencapai setiap milestone perkembangan bahasa sangat bervariasi. Dengan demikian, perkembangan bahasa pada anak harus dibandingkan dengan milestone dan bukan dengan anak lainnya, ya. Secara umum, anak perempuan menunjukkan perkembangan bahasa yang lebih cepat daripada anak laki-laki. Lebih dari aspek perkembangan lainnya, perkembangan bahasa mencerminkan pertumbuhan dan kematangan otak. Dan setelah usia lima tahun, biasanya akan jadi lebih sulit bagi kebanyakan anak untuk belajar bahasa baru.

Nah Teman Tumbuh, perkembangan bahasa reseptif (kemampuan memahami bahasa) biasanya berkembang lebih cepat daripada bahasa ekspresif (kemampuan berkomunikasi). Dalam perkembangan bahasa referensial, anak pertama-tama akan mengucapkan satu dua kata lantas menggabungkan kata-kata itu bersama-sama, pertama menjadi kalimat dua kata dan kemudian menjadi kalimat tiga kata. Dalam perkembangan bahasa ekspresif, anak-anak pertama-tama berbicara dalam ocehan panjang yang tidak dapat dipahami yang meniru irama dan ritme bicara orang dewasa. Kebanyakan anak menggunakan kombinasi dua gaya ini.

  1. Sosioemosional

Perkembangan sosial-emosional adalah kemampuan anak untuk memahami perasaan orang lain, mengendalikan perasaan dan perilaku mereka, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Agar anak-anak mampu mencapainya keterampilan dasar yang mereka butuhkan adalah kerjasama, mengikuti petunjuk atau instruksi, dan mendemonstrasikan pengendalian diri serta memberika perhatian. Bagian dari perkembangan sosial-emosional lainnya adalah rasa percaya pada orang lain, percaya diri, rasa bangga, keakraban dan persahabatan, serta kasih sayang dan humor. Masing-masing keterampilan ini berkembang pada tahap di usia tertentu dan dibangun di atas satu sama lain. Pondasi dari perkembangan sosial emosional dimulai sudah dimulai sejak bayi, lho. Contohnya, bayi berusia dua bulan yang menangis dapat ditenangkan dan tersenyum lagi setelah mendengar suara orang dewasa. Ketika orang tua, pengasuh, atau keluarga mengajak anak berbicara, anak akan terpaku pada wajah orang yang ia cintai.

Perkembangan sosial-emosional anak sama pentingnya dengan perkembangan kognitif dan fisiknya. Penting untuk diketahui bahwa anak-anak tidak dilahirkan dengan keterampilan sosial-emosional. Karenanya, peran orang tua, pengasuh, dan guru pengajar sangat dibutuhkan. Perkembangan sosial-emosional akan membantu anak mengenal siapa mereka di dunia, bagaimana mereka belajar, dan membantu mereka membangun hubungan yang berkualitas dengan orang lain. Inilah yang mendorong individu untuk berkomunikasi, terhubung dengan orang lain, dan yang lebih penting, membantu menyelesaikan konflik, mendapatkan kepercayaan diri, dan mencapai tujuan.

Nah Teman Tumbuh, itu dia aspek-aspek perkembangan anak dan bagaimana pentingnya stimulasi pada setiap aspek tersebut. Dapat dikatakan, setiap aspek berperan penting dalam membentuk anak menjadi individu yang fungsional, ya. Karenanya, stimulasi sejak usia dini sangat dibutuhkan.

Minggu depan, Badiblum akan mulai membahas milestones atau capaian-capaian dari tiap aspek perkembangan saat anak menginjak usia tertentu. Penasaran, kan? Jangan sampai kelewatan, ya! Jaga kesehatan selalu dan sampai jumpa minggu depan, Teman Tumbuh!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post