Me and My (kinda) Normal Family




Ditulis oleh: Salsabila


Sometimes, your family is your worst enemy.

Kata-kata ini rasanya ada benarnya juga. Coba pikirkan, kamu pasti pernah sesekali merasa sebal pada keluargamu. Atau melihat anggota keluargamu saling sebal satu sama lain. Entah ketika ayah dan ibumu cekcok karena salah bicara atau ketika kamu dan kakakmu berkelahi karena berebut remot televisi. Pernah nggak?

Di keluarga kami, berantem itu hal yang biasa. Kalo kamu banyak tahu tentang zodiak, coba kasih tahu saya bagaimana bila dua Leo, satu Gemini, dan satu Capricorn dimasukkan ke dalam satu rumah yang sama? Keras banget, kan!

Keluarga kami mungkin bisa dibilang unik karena mencerminkan gender role yang berbeda dengan keluarga pada umumnya di Indonesia. Sejak tahun 1997, Ibu saya berganti peran menjadi pencari nafkah ulung sementara Ayah saya juga berganti peran menjadi orang yang menjaga semua hal baik di rumah. Well, my mother is indeed a very strong woman. Menghidupi empat kepala bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi harus menyekolahkan kedua anaknya sampai jenjang sarjana. And my father, he is a really great chef everyone who’ve tasted his food might say that. Di keluarga kami, semua selalu rindu masakan Pap.

Oh satu lagi hal yang tidak bisa dilewatkan dari keluarga kami,  Kakak saya. Manusia satu ini harus diakui kepintaran dan keuletannya, tapi di mata saya ia adalah manusia yang kadang bisa jadi paling menyebalkan. Dulu, kalau Mam dan Pap sudah duduk di sofa untuk ‘ceramah’ kami berdua hanya bisa diam mendengarkan, kalimat-kalimat panjang penuh wejangan bukan hal yang menyenangkan bagi kami. Tapi kocaknya, kakak saya ini bisa-bisanya dengan santai mengajak kami semua makan setelah sesi ‘ceramah’ selesai. Si aneh.

Bila diingat-ingat, saat kecil saya juga bukan anak yang diam-diam saja. Banyak hal yang membuat saya dimarahi ketika kecil. Mulai dari nilai matematika yang jarang sekali baik hingga kecerobohan yang membuat saya seringkali terluka atau merusak barang yang cantik. Sebagai anak bungsu, kadang saya merasa saya adalah orang paling tidak punya hak untuk marah di rumah. Saya mau marah pada siapa? Semua lebih tua dari saya.

Pertengkaran antara saya dan Kakak yang paling saya ingat mungkin ketika saya minta diajari pelajaran padanya. Kakak yang lebih tua lima tahun dari saya harusnya bisa mengajarkan saya, kan? Tapi saya selalu berakhir menangis karena dimarahi. Katanya, saya yang lambat dan tidak mudah mencerna apa yang ia jelaskan membuatnya gemas. Saya akui, kapasitas otak saya mungkin tidak secemerlang dia. Tapi bukankah harusnya ia bisa mengajari saya dengan sabar? Iya, saya memang sedang cari pembelaan.

Namun di atas itu semua harus saya akui, keluarga saya adalah satu-satunya tempat saya bercerita. Di balik pertengkaran yang kerap terjadi antara saya dan kakak, saya tahu dialah orang yang paling bisa menyimpan cerita-cerita saya. Mam juga. Oh, Pap juga sih. Entah kenapa, saya akhirnya selalu menceritakan cerita-cerita saya pada keluarga saya. Rasanya aman saja. Dulu ketika bolos sekolah saja pulangnya saya bilang, “Mam, aku ngga sekolah tadi.” Lalu Ibu saya hanya akan tertawa sambil bilang, “Besok ngga diulangi ya.

Hm… saat itu mungkin saya sedang beruntung.

Ya itulah keluarga saya, sekelompok orang yang bisa dibilang paling menyebalkan tapi di saat yang sama adalah orang-orang yang selalu ada. Kami bisa sebal karena salah satu memaksa untuk datang di masa pandemi tetapi kami juga yang senang karena dibawakan ceker pedas buatan Pap akhirnya. Kami bisa saling diam beberapa hari sampai akhirnya kami juga yang memaksa ingin bicara karena ingin cerita. Kami bisa saling berkelahi, tapi kalau sampai ada yang mengganggu salah satu dari kami, kami yang kesal juga akhirnya.

Akhirnya, segala pertengkaran kami menjadi hal yang bisa kami tertawakan di meja makan. Menjadi memori memalukan tetapi sanggup menghangatkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post