Keluarga, Teman Tumbuhku: Dari Hati Anak Sulung




Ditulis oleh: Nadhira S. A

“Families are the compass that guides us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter” – Brad Henry

Kita tahu bahwa kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan. Memang jika bisa, kalian ingin lahir dari keluarga yang bagaimana? Mungkin keluargaku tidak sekaya Rafi-Gigi atau serupawan Zayn-Gigi, tapi aku sangat bersyukur memiliki mereka.

Keluargaku sederhana, bukan tipe yang setiap tahun liburan atau ganti handphone ketika ada yang baru launching, tapi orangtuaku selalu berusaha memenuhi kebutuhan kami. Sandang, pangan, papan, bahkan kebutuhan emosional. Mereka memberiku ruang yang cukup untuk berkembang sendiri. Mereka tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk memenuhi keinginan mereka, selama hal tersebut tidak merugikan orang lain dan melanggar aturan. Aku juga bisa dengan nyaman berdiskusi dengan ibuku secara objektif.

Ketika menikah, orangtuaku sama-sama sudah menjadi yatim. Aku kehilangan adik dan nenekku di tahun yang sama saat aku berusia 7 tahun. Kemudian kehilangan ayahku di usia 17 tahun. Agaknya mengatasi kehilangan sudah menjadi job desc dalam keluarga kami. Setiap aku merasa lemah, aku mengingat ibuku yang telah kehilangan kedua orang tua, anak, dan suami di usia 45 tahun. Tidak ada waktu untuk lama-lama berduka, karena hidup akan terus berjalan. Menjadi kuatlah yang akan membantu kita bertahan.

Sebagai anak, aku dapat melihat perbedaan kepribadian pada kedua orangtuaku. Ayahku tipe yang sangat hati-hati, senang basa-basi, down-to-earth, rapi, dingin, namun sebenarnya sangat peduli. Ia yang setiap hari menanyakan apakah aku sudah makan atau belum, mengecek apakah aku sudah tidur setiap malam, dan mengantar-jemput aku sekolah sejak TK. Di sisi lain, ibuku tipe yang lebih spontan, impulsif, dan to-the-point. Ia adalah wanita yang mandiri dan kuat. Ia tahu apa yang ia inginkan dan selalu berusaha mendapatkannya. Ia tidak takut untuk menghadapi masalah apapun; karena ada Allah, katanya. Oh omong-omong, lagu Bertaut dari Nadin Amizah benar-benar membuatku trenyuh karena cerita yang ia bawa menggambarkan bagaimana aku dan ibuku.

Secara fisik, banyak orang mengatakan bahwa aku sangat mirip dengan ibu. Namun untuk kepribadian, tujuh puluh persen aku lebih mirip ayah. Yang berhati-hati, irit, ramah, dan senang berbasa-basi dengan orang lain. Tiga puluh persen lain dari perangaiku terpengaruh ibuku. Dulu aku merupakan anak yang cengeng, lemah, dan tidak berani. Namun sekarang setelah lebih dewasa, setelah lebih banyak memerhatikan ibuku, dan mengalami banyak hal yang memaksaku untuk menjadi lebih kuat, aku mulai belajar mengubah bagaimana aku harus menyikapi masalah. Menangis sesekali memang perlu, namun jika tidak melakukan aksi yang solutif maka percuma, tidak akan menyelesaikan apapun.

Aku merupakan anak sulung. Mereka bilang beban anak sulung itu berat, ya? Apalagi anak sulung perempuan. Dengan orangtuaku, mereka tidak begitu memberiku beban untuk “bertanggung jawab”, “memberi contoh baik bagi adik-adik”, atau “mengurus adik”. Yang pasti mereka selalu berpesan agar kami selalu akur, agar kelak jika kami tinggal berdua saja, kami dapat saling berpegangan tangan menguatkan.

Si kakak yang katanya harus lebih dewasa dan mengalah, justru tidak terlalu berlaku bagiku. Selisih usia antara aku dengan adikku adalah 10 tahun, dan di usianya yang sekarang ia malah terbilang jauh lebih dewasa dibandingkan dengan aku dan seumurannya. Ia tidak banyak bicara, namun perilakunya sudah cukup menyampaikan apa yang perlu ia sampaikan. Perangainya jauh lebih tenang dariku, bahkan ia yang menenangkanku kalau aku sedang panik dan overthinking.

Selama menjalani hidup, dapat dikatakan bahwa sembilan puluh persen aspek dalam diriku dipengaruhi oleh keluarga. Aku memegang teguh nilai religiusitas, didaftarkan ke sekolah islami oleh ibu dan ayah, dan sampai sekarang ibu masih selalu mengingatkanku untuk memperbanyak ibadah. Kedua orangtuaku juga benar-benar mengajarkan kami bagaimana harus berinteraksi dengan orang lain, apalagi nilai sopan santun ketika berinteraksi kepada yang lebih tua. Dalam keluarga kami juga diajarkan untuk dapat terbuka dan saling bercerita, mengekspresikan perasaan kami, dan saling menghargai pendapat meskipun berbeda. Selain itu, kemampuan seperti memasak nasi, mencuci mobil, beres-beres rumah juga ditanamkan kepada anak-anak dari kecil.

Tumbuh dalam keluargaku, berada di rumah dan dikelilingi dengan mereka hingga kini rasanya aman, hangat, dan damai. Bagaimana denganmu? Perasaan apa yang kamu rasakan ketika mengingat keluargamu? Aku sadar bahwa tidak semua orang merasakan hal yang positif, namun aku harap kelak kita bisa membangun keluarga sesuai dengan yang kita harapkan, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post