Bedah Jurnal : Pengaruh Dukungan Pasangan pada Komplikasi Selama Masa Kehamilan dan Kelahiran di Indonesia




Ditulis oleh: Insyirah Alifta

Tahukah Teman Tumbuh? 

Peran serta suami terkait kesehatan dan perilaku reproduksi pasangan, diakui sebagai intervensi kunci untuk meningkatkan kesehatan istri sebagai calon ibu. Berdasarkan penelitian sebelumnya, keterlibatan suami mempengaruhi kesehatan istri yang sedang hamil terutama dalam hal status gizi selama kehamilan dan kemungkinan istri menerima perawatan kebidanan yang dibutuhkan.

Di Indonesia, persentase komplikasi kehamilan di area perkotaan terus meningkat dari 43,3 menjadi 57,1 pada tahun 2007 dan 2012. Sedangkan di daerah pedesaan, kecenderungan komplikasi kehamilan dan persalinan juga meningkat dari 35,4 menjadi 48,7 pada tahun 2007 dan 2012. Jenis komplikasi atau morbiditas yang dimaksud dalam penelitian ini diantaranya adalah persalinan prematur, perdarahan yang berlebihan, demam, kejang, pingsan, hingga kesulitan buang air kecil atau buang air besar.

Nah, beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan adanya dampak positif dari partisipasi suami dalam perawatan kesehatan istri yang sedang hamil baik di negara maju dan berkembang, dampak yang dimaksud termasuk peningkatan akses ke layanan kesehatan selama kehamilan dan setelah melahirkan. Selanjutnya, dukungan pasangan juga dapat mendorong calon ibu menghentikan praktik hidup yang tidak sehat seperti mengonsumsi alkohol, merokok, dan mengonsumsi makanan yang kurang bermanfaat. Dampak lain yang tidak bisa diabaikan adalah bahwa dukungan dari suami dapat mendukung kesehatan mental calon ibu, meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi, dan mengurangi kecemasan serta komplikasi selama persalinan.

Pada jurnal yang akan kita bahas kali ini, penelitian yang dilakukan  menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012. Karena letak fokusnya pada pengaruh dukungan suami, maka peneliti hanya memilih responden kelompok wanita yang sudah menikah. Peneliti mengambil data kondisi kelahiran terakhir dari wanita menikah yang melahirkan dalam waktu 2 tahun terakhir saat penelitian ini dilakukan (2011 dan 2012) sehingga terkumpul 5.052 orang responden.

Adapun kuesioner yang dibagikan memberi pertanyaan mencakup karakteristik demografi, riwayat reproduksi responden, kehamilan, perawatan antenatal (sebelum kelahiran) dan postnatal (setelah kelahiran), serta imunisasi dan pemenuhan nutrisi.

HASIL PENELITIAN

Seperti yang dikatakan sebelumnya, penelitian ini melibatkan 5.052 perempuan yang sudah menikah dan berada di usia subur (15-49 tahun). Berdasarkan wilayah, ditemukan bahwa sebagian besar responden berada di wilayah Jawa dan Bali, diikuti oleh Sumatera. Sebagian besar responden berusia 20-34 tahun (68,6%) dengan sebagian besar istri/calon ibu memiliki pendidikan terakhir di tingkat sekolah menengah (55,3%). Sekolah menengah dalam sistem pendidikan Indonesia berarti sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, ya.

Nah, terkait pendidikan suami, penelitian ini mengartikulasikan bahwa pendidikan terakhir suami memiliki kesamaan angka dengan pendidikan terakhir istri yaitu sebesar 55,6% dengan tingkat pendidikan menengah. Untuk pekerjaan, kelompok istri yang memiliki pekerjaan (pekerjaan non rumah tangga) sebesar 45,2%, sedangkan sebagian besar suami memiliki pekerjaan (98,6%). Partisipasi suami dalam pemeriksaan kehamilan sebelum melahirkan adalah sebesar 74,4%, dan 59,8% suami mendampingi saat persalinan.

Studi ini menunjukkan bahwa dari semua data yang dikumpulkan dalam kuesioner, faktor yang hubungannya kuat dengan komplikasi selama kehamilan dan saat melahirkan adalah usia ibu saat melahirkan. Selain itu data juga menunjukkan adanya kemungkinan faktor eksternal seperti tingkat pendidikan pasangan, pekerjaan istri dan suami, serta kehadiran suami menemani pemeriksaan di masa kehamilan dan menemani saat proses melahirkan.

  1. Pendidikan Terakhir

Menariknya, pendidikan tinggi baik suami maupun istri dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan morbiditas atau komplikasi saat melahirkan. Bahkan jika sang suami memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, namun bila enggan memberi perhatian pada kesehatan sang istri selama kehamilan maka bisa jadi fatal akibatnya. Jika suami memahami betul masalah-masalah yang mungkin terjadi selama kehamilan, potensi komplikasi kehamilan dapat menurun. 

  1. Pekerjaan

Terkait pekerjaan, pasangan yang memiliki pekerjaan lebih mungkin untuk mengalami komplikasi dibanding yang tidak bekerja. Pekerjaan yang mengharuskan calon ibu berinteraksi dengan lingkungan dapat beresiko pada kesehatannya dengan munculnya penyakit pernapasan dan paru-paru, seperti: asma atau bronkitis kronis. Bekerja di tempat yang melibatkan tugas-tugas repetitif dan membosankan, imbalan rendah dengan apresiasi rendah, dan kontrol minimal atas kehidupan kerja juga dikaitkan dengan komplikasi di masa kehamilan pada calon ibu.

  1. Dukungan saat pemeriksaan kehamilan dan kelahiran

Istri yang ditemani oleh suaminya selama pemeriksaan kehamilan dan saat melahirkan memiliki tingkat komplikasi yang lebih tinggi selama kehamilan dan melahirkan. Ini mungkin terjadi karena keterlibatan suami selama pemeriksaan kehamilan dan saat melahirkan, dapat meningkatkan dominasi pria dalam membuat keputusan, penjelasan masuk akal lainnya adalah bahwa komplikasi bisa meningkat ketika suami menjadi cemas di ruang bersalin.

Keterbatasan Penelitian

Dalam jurnalnya, peneliti menyebutkan bahwa komplikasi yang dialami di masa kehamilan dan persalinan ada banyak jenisnya dengan tingkat keparahan yang berbeda, faktor-faktor yang disebutkan pada hasil penelitian ini mungkin bukan merupakan efek langsung pada komplikasi yang terjadi tetapi merupakan penentu eksternal atau sosial. Dengan demikian, kebijaksanaan sangat diperlukan dalam menerapkan hasil ini untuk studi klinis.

Simpulan

Faktor biologis seperti usia ibu saat melahirkan memiliki hubungan positif dengan morbiditas atau komplikasi kehamilan. Sementara determinan sosial seperti pendidikan, pekerjaan, dukungan suami selama pemeriksaan kehamilan dan saat persalinan tidak secara langsung mempengaruhi komplikasi pada kehamilan, tetapi dapat menjadi faktor yang mendorong calon ibu dan pasangan melakukan pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan pada para calon ibu menjadi jalur penting dalam meningkatkan kesehatan para ibu di Indonesia. Diharapkan, kebijakan pemerintah terkait kesehatan calon ibu mengarah pada pemberdayaan perempuan dan mendorong partisipasi pasangan dalam menjaga kesehatan calon ibu.

SUMBER :  Agushybana, Farid. “Influence of husband support on complication during pregnancy and childbirth in Indonesia.” Journal of Health Research 30, no. 4 (2016): 249-255.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Related Post