Awan, Si Bungsu yang Sedang Belajar untuk Berani




Ditulis oleh: Insyirah Alifta

Teman Tumbuh, sudah pernah membaca buku berjudul Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini? Buku karya Marchella FP sempat membuat riuh karena tampilannya yang cantik dan unik serta muatannya yang menginspirasi banyak orang. Lalu, awal tahun 2020 kemarin bioskop dibuat penuh oleh penonton yang tidak sabar menantikan film garapan Angga Dwimas Sasongko, film yang diadaptasi dari buku yang fenomenal tadi. Judul filmnya pun sama : Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. Sudah pernah menonton?

Bagi Teman Tumbuh yang sudah pernah menontonnya mungkin sudah tidak asing dengan tiga orang putra-putri pak Narendra : Angkasa, Aurora, dan Awan. Dalam film yang disingkat NKCTHI ini, karakter Angkasa, Aurora, dan Awan masing-masing memiliki konflik dan ceritanya sendiri. Dalam minggu anak bungsu ini, kita akan membicarakan tentang Awan. Si Bungsu yang sedang dalam pencarian jati diri.

Dalam film, karakter yang diperankan oleh aktris Rachel Amanda ini digambarkan sebagai si anak bungsu yang selalu diutamakan sekaligus dikhawatirkan. Awan yang beranjak dewasa baru memulai kariernya sebagai seorang arsitek dan benar-benar passionate dengan pekerjaannya. Namun, meski sudah berada pada fase kehidupan orang dewasa, Awan seolah tidak punya ruang gerak sebebas teman sebayanya. Keluarganya, terutama sang Ayah selalu memastikan Awan tidak sendirian dalam mengerjakan sesuatu. Kemana-mana ia selalu diantar dan dijemput, saat ada tugas seisi keluarga turun tangan membantu mengerjakan, ketika kesulitan semua juga ikut memikirkan jalan keluarnya.

Sejak kecil, Awan nyaris tidak pernah menghadapi tantangannya seorang diri.

            Lantas, saat harus bertransisi menjalani kehidupan di luar rumah, Awan sadar bahwa perlakuan yang ia dapat sebagai bentuk ‘kasih sayang’ selama ini malah menyulitkannya mengenal dirinya sendiri. Keberhasilan dalam proyek yang ternyata tidak luput dari campur tangan sang Ayah membuat Awan kecewa dan meragukan kemampuannya sendiri.

Awan si adik manis kesayangan keluarga memutuskan memulai petualangannya sendiri. Tanpa Ayah, tanpa Ibu, tanpa Angkasa dan Aurora kakak-kakak tersayangnya.

Pertemuannya dengan Kale membuka mata Awan akan begitu banyak hal di dunia yang belum ia tahu. Ada banyak pengalaman yang belum ia coba, karena seumur hidupnya apa-apa harus dalam persetujuan Ayah dan mas Angkasa. Pertemuan dengan Kale mengajarkan Awan untuk percaya pada dirinya sendiri. Ia sadar bahwa satu-satunya orang yang bisa menolongnya dalam keterpurukan dan kebingungannya adalah dirinya sendiri.

Awan kini menjadi si bungsu yang pemberani.

Adakah di antara Teman Tumbuh yang punya pengalaman serupa dengan karakter Awan? Tumbuh sebagai yang paling muda dan paling ‘kecil’ dalam keluarga, anak bungsu seringkali menjadi pusat perhatian. Mereka terbiasa dibantu dan dibimbing oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Seringkali dianggap tidak bisa melakukan sesuatu sendiri, seluruh anggota keluarga selalu punya naluri ingin ‘melindungi’.

Tapi apakah artinya para anak bungsu tidak punya potensi dan tidak berhak bermimpi? Tentu saja tidak. Sebaliknya, mereka biasanya adalah yang berani bermimpi tinggi-tinggi. Tinggal apakah mereka mau mengepakkan sayap sebagaimana Awan yang memutuskan untuk berani, atau malah berhenti. Jadi, apakah kamu si anak bungsu yang pemberani?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post